Selamat Hari Jadi Kabupaten Deli Serdang

Gantikan Kompor Gas, Inovasi Kompor Biomassa Unimed Pangkas Pengeluaran Dapur Petani di Seirotan

Gantikan Kompor Gas, Inovasi Kompor Biomassa Unimed Pangkas Pengeluaran Dapur Petani di Seirotan
Gantikan Kompor Gas, Inovasi Kompor Biomassa Unimed Pangkas Pengeluaran Dapur Petani di Seirotan
Share

Metropos 24. Sei Rotan 18 Oktober 2026 – Tim akademisi Universitas Negeri Medan (Unimed) berhasil menciptakan solusi mandiri energi bagi warga Desa Sei Rotan, Kecamatan Percut Sei Tuan, Kabupaten Deli Serdang, Sumatera Utara melalui penerapan inovasi kompor gasifikasi biomassa berbahan bakar tongkol jagung.

 

Langkah teknologi tepat guna ini sukses memangkas biaya pengeluaran energi dapur rumah tangga petani hingga 60 persen sampai 70 persen sekaligus mengatasi masalah penumpukan limbah pertanian di kawasan perdesaan tersebut. Program pengabdian masyarakat yang didanai oleh LPPM Unimed ini dipelopori oleh Prof. Janter P. Simanjuntak, Ph.D,
Dr. Bisrul Hapis Tambunan, ST., MT., dan Dr. Dina Sarah Syahreza, M.Si dengan menggandeng kelompok tani lokal yang dipimpin oleh Bapak Khoirun Gultom.

 

Inovasi ini berakar dari tingginya ketergantungan keluarga petani terhadap gas LPG 3 kg bersubsidi yang harganya kerap berfluktuasi dan membebani finansial dapur. Di sisi lain, aktivitas pertanian di Desa Sei Rotan secara konsisten menghasilkan tumpukan limbah tongkol jagung dalam jumlah masif yang selama ini dibiarkan menumpuk atau dibakar begitu saja di lahan terbuka. Melalui pendekatan pembakaran pirolitik dua tahap, tim Unimed merancang unit kompor biomassa portabel berdimensi tinggi 30 cm dan diameter 28 cm yang mampu mengubah limbah tersebut menjadi energi termal bersih, minim asap, dan ramah lingkungan.

 

Dampak penerapan teknologi ini terbukti sangat masif bagi ketahanan ekonomi dan ekologi masyarakat setempat. Setelah masa pendampingan, konsumsi gas LPG 3 kg warga menurun drastis dari yang semula 4 hingga 5 tabung menjadi hanya 1 hingga 2 tabung per bulan. Penurunan ini otomatis memotong pengeluaran belanja bahan bakar dari kisaran Rp80.000 hingga Rp100.000 menjadi hanya Rp20.000 hingga Rp40.000 saja per bulan. Tidak hanya menghemat pengeluaran, program ini juga sukses mengonversi 85 persen limbah tongkol jagung yang dulunya mengotori lingkungan menjadi bahan bakar produktif, sekaligus mendongkrak keterampilan teknis dan pemahaman warga mengenai energi terbarukan hingga mencapai angka 90 persen.

 

 

MP 24

Redaksi MetroPos 24

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *